Kamis, 17 September 2009

Reuni Deutschabteilung 2001

Sore yang cerah... menandakan cerahnya hari para alumnus UNJ Deutschabteilung angkatan 2001 berkumpul. Satu tempat yang strategis, dimana kami semua berjanji untuk bertemu.

Aku dan temanku datang terlambat, meski kami bukan orang yang suka telat. Dari masa kuliah, disiplin adalah makanan kami dan pegangan kami. Karena terlalu disiplin, makanya kami susah lulus (walaupun itu tidak ada hubungannya). Tetapi toh semua yang terjadi mempunyai hubungan, yang kadang aku memang suka menghubung - hubungkannya. Oia ada satu teori yang baru kudengar barusan.. bahwa "kedisiplinan" bukanlah sebagai "pengekang" untuk seseorang, tetapi menjadi "kebebasan". Contohnya jika Anda disiplin mengontrol makanan, membuat anda bebas menikmati umur yang panjang, karena Anda sehat. Jika Anda mendisiplinkan diri untuk belajar, maka Anda bebas memilih menjadi orang sukses.. Nice perspektive.. but what do you think actually ?

Kembali lagi ke reuni ini, setelah kami berkumpul dan selesai memesan makanan, satu persatu dari kami menceritakan tentang visi dan misi (bak Bapak Ibu yang akan dipilih dalam kabinet) dan apa yang kami lakukan sekarang ini. Ternyata hampir dari kami semua mempunyai mimpi. Ada pertanyaan yang ingin kutanyakan, apakah ada orang yang tidak mempunyai mimpi dalam hidup ? Jawabannya iya... itu pernah kutanyakan pada anak muridku dan orang - orang terdekat, beberapa dari mereka hanya menggeleng kepala seperti orang India mengatakan Nehi.. nehi..
Apa berarti mereka merasa puas dan ikut saja kemana angin meniupnya.. untung bukan aku yang tertiup..

Setelah kami bertemu, banyak hal yang sudah terjadi dan menjadi pembelajaran. Walau ada yang buruk dan menjadi tambah buruk. Itu yang menjadi bumbu pembelajaran.. jika kau olah Teman.. menjadi sedaap rasanya...

Satu yang pasti dariku.. tetap semangat!! dan selamat menikmati hidup kembali bersama Tuhan dan alam....

Liebe euch...
deine LIa

Rabu, 16 September 2009

Traum 2

Hari... akan selalu berjalan tetapi ada kalanya manusia menuntut Sang Kuasa dan mengeluh..
Ku dapati suatu jawaban dengan sedikit keraguan, apakah ini yang harus kupilih batu awal ku..
Lari dari mimpi dan menghadapi kenyataan di depan mata.

Sebagai "music and art teacher" pada satu sekolah National Plus (yang sedang in di kalangan pendidikan modern ini).. Ok kenyataannya, memang aku pemusik, at least aku mengerti musik... dan seni ... well iya aku menghargai seni... lebih dari itu, manalah aku tahu ??
Tantangan, itu yang aku suka. Walau hasilnya kadang kegagalan, membuat hati terluka. Banyak teori berkata, yang penting adalah proses, bukan hasil... (sebenarnya aku penganut, yang mementingkan keduanya)

Sebelum itu aku setuju akan bekerja di sekolah tersebut dengan gaji yang cukup lumayan di awal karir seorang guru.
Guru... latar belakang pendidikanku guru, tapi bukan salah satu mimpiku menjadi "guru".
Alasannya cuma satu, karena pekerjaan tersebut belum terlalu dihargai di negeri tercinta ini.
Banyak yang berkata atau tepatnya bernyanyi, terpujilah wahai engkau ibu bapak guru.... (salah satu lagu dalam upacara yang sering dinyanyikan semasa aku SD).

Sekolah ini cukup unik.. dengan design struktur bangunan yang unik. Begitupun seragam untuk guru dan murid semua unik, salah satu keunikannya adalah menggunakan kaos, khusus guru menggunakan Jeans...
Tapi yang pasti keunikan sekolah ini masih menyisakan mimpi yang tak terlupakan..
Kuharap biar mimpi itu sedang disusun Tuhan dan alam akan membantu meraihnya...

to be continued..

TRauM 2
Herlia Sirait
16.09.09

Senin, 14 September 2009

Traum (mimpi.......)

Mimpi.......... adalah kunci.... (nach dem Lied : Laskar Pelangi)

Ich hab viele Traeume
Seperti orang lain yang punya banyak mimpi..

Saat lulus kuliah... aku ingin pergi ke Jerman... akhirnya beberapa lamaran menjadi Aupair di Jerman (khusus untuk pelajar atau kuliah) aku ikuti. Alhasil aku mendapat panggilan.. Dari keluarga Jerman, Gastfamilie ; Ayah =seorang dokter dan Ibu = seorang editor majalah.

Perfekt.. sempurna pikirku dengan segala fasilitas yang ditawarkan kepadaku dan sekolah gratis selama 1 tahun.
Dengan bahagia aku beritahukan kepada orang tua. Tetapi dengan berat hati, mereka tidak mengijinkan ku untuk pergi ke Jerman. Seperti besi tajam yang menghancurkan mimpiku seketika.
Tak pernah terpikir bagaimana mereka tidak mengijinkanku.. Tapi dengan doa bisa terjawab, bahwa bukan ini kehendak Tuhan .
Dengan doa, aku tidak menyalahkan orang tuaku yang tidak mengijinkanku untuk melangkah keluar negeri. Pasti ada yang terindah maksud dan rencana Tuhan. Itu yang selalu kupegang teguh.

Sehingga aku mencoba melamar pekerjaan dengan sekuat tenaga dan melanjutkan kehidupan yang telah Tuhan anugrahkan kepadaku...
Dengan impian yang kurubah.. " suatu saat aku akan melihat dunia luar..."

fortsetzung folgt....
to be continued...


Traum 1
Herlia Sirait
15.09.09